by

Asiknya Berdakwah Melalui Media Tulis Menulis

Salah satu sunnah yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW namun sedikit sekali dari kaum Muslim yang menyadarinya adalah menulis. Bahkan, Allah SWT juga memerintahkan kita untuk menulis, walau dalam perintah-Nya tersebut dikaitkan dengan urusan utang piutang.

Prof Mustafa Azami dalam bukunya yang berjudul Kuttabun Nabi menyebutkan, untuk urusan tulis-menulis, Rasulullah SAW mempunyai 65 sekretaris. Sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, dan ulama salafussholih memperkuat dan mengembangkan budaya tulis-menulis dan menjadikannya tradisi kaum Muslim.

Berdakwah melalui tulisan saat ini menjadi suatu keharusan di Era Digital Informasi saat ini. Bahkan telah menjadi kebutuhan umat islam karena dakwah lewat tulisan lebih efektif dan efisien. Mengapa? Ini alasannya:

1. Tidak terbatasi oleh waktu.

Dilihat dari segi waktu, dakwah lewat tulisan sangat fleksibel. Artinya, mad’u dan dai tidak harus bertemu dalam satu waktu. Selain itu, materi dakwah juga awet karena berupa tulisan. Bila mad’u lupa dengan pelajaran yang pernah dibaca, ia bisa mencarinya kembali, Berbeda dengan dakwah Bil-lisan. Tidak berlebihan bila sebuah pepatah mengatakan, Ilmu ibarat binatang ternak sedangkan tulisan adalah tali kekangnya.

2. Bisa menjangkau daerah yang luas.

Dakwah melalui tulisan dapat disebarkan secara luas tanpa terbentur faktor geografis. Karena mad’u (objek dakwah) tidak harus bertatap muka dengan dai (penyampai dakwah) yang ada di suatu tempat tertentu.

3. Keakuratan isi dakwah lebih terjamin.

Berdakwah melalui lisan besar kemungkinan melakukan suatu kesalahan atau kekhilafan, baik isi maupun dalil-dalil yang digunakan. Ini karena dakwah lisan hanya berpegang pada ingatan yang sifatnya terbatas. Kata-kata yang diucapkan pun seringkali tidak efektif.

Berbeda dengan dakwah melalui tulisan. Materi yang disajikan diambil dari sumber-sumber yang tepercaya. Dalam penyusunannya kita bebas membuka dan membolak-balik buku yang tidak mungkin dilakukan dalam dakwah lisan. Hal ini membuat materi yang disampaikan lebih akurat. Kata-kata yang disajikan pun telah dikoreksi berulang-ulang agar efisien dan mudah dicerna pembaca.

Inspirasi dari Para Ulama

Kiranya masih banyak kelebihan lain yang tidak mungkin dipaparkan dalam tulisan singkat ini. Lalu, mengapa kita tidak mencoba jalan ini dan turut bergabung dengan barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya?

Coba kita bayangkan pahala yang diterima para penulis Al-Quran terdahulu seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab,Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabbit, Amr bin Ash, Abdullah bin Rawahah, Muhammad bin Maslamah, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, dan para sahabat lainnya. Dari goresan merekalah, Al-Quran yang sekarang kita baca diriwayatkan.

Kita juga harus kagum dengan perawi hadits seperti Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Buhari, dan sebagainya. Ketika hadits yang mereka riwayatkan melalui tulisan digunakan untuk berdakwah, Belum lagi seperti kitab Ihya Ulumudin karya Imam Ghazali, Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka, Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i dan kitab-kitab lainnya yang menjadi rujukan kita dalam berdakwah. Maka pahala bagi mereka terus mengalir walau jasadnya telah tiada.

Jadi, tunggu apa lagi. Segera ambil pena dan goreskanlah kalimat-kalimat dakwah. Siapa tahu kelak ia menjadi jalan bagi kita untuk meraih pengampunan-Nya.

Bagi para Mahasiwa Pendidikan Dakwah Ar-Risalah yang ingin Berdakwah melalui tulisan dapat mengirimkan materi dakwahnya / Artikelnya melalui email : info.arrisalah@gmail.com

Mari bersama-sama kita berjuang di Medan Dakwah Menuju Mardhotillah !!!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya