by

Metode Belajar Mengajar Ala Rasulullah SAW (Bagian Satu)

Lembaga Pendidikan Ar-Risalah – Methodologi Pengajaran merupakan elemen yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Oleh karenanya setiap Guru, Asatidz, dan penggiat dakwah mutlak harus memahami dan menguasai Methodologi Pengajaran dengan baik.

Ada beberapa metode pengajaran yang dipandang representatif dan dominan yang digunakan oleh Rasulullah Saw untuk meningkatkan potensi anak didik (sahabat). metode-metode pembelajaran yang diaplikasikan oleh Rasulullah Saw, diantaranya sebagai berikut:

  • PENGKODISIAN SUASANA BELAJAR (Learning Conditioning)

Learning Conditioning merupakan syarat utama untuk terciptanya proses belajar mengajar yang efektif. Ada tiga cara yang digunakan Rasulullah Saw dalam metode ini, yaitu:

Meminta Diam untuk Mengingatkannya

Metode berupa permintaan diam kepada murid-murid adalah salah satu cara yang paling baik untuk menarik perhatian mereka.

Rasulullah Saw pernah bersabda ketika haji Wada, “Wahai manusia, tenanglah kalian!” (Al Nadawi. Shahih al Sirah al Nabawiyyah, 662). Kemudian melanjutkan lagi, “….Diamlah, janganlah kalian kembali kafir setelah (kematian)-ku, yaitu sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain…” (Al Nadawi. Shahih al Sirah al Nabawiyyah, 550).

Menyeru Secara Langsung

Metode berupa seruan langsung biasanya dilaksanakan pada awal pelajaran, tetapi terkadang dilakukan ketika proses mengajar tengah berlangsung. Hal ini pernah dicontohkan dalam hadits, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah Saw naik ke atas mimbar. Majelis tersebut merupakan masjelis terakhir yang beliau hadiri. Beliau menggunakan mantel yang beliau lingkarkan di atas kedua bahu beliau. Kepala beliau terserang penyakit. Beliau lalu ber-tahmid dan memuji Allah, kemudian bersabda, “Wahai sekalian manusia, berkumpullah!” Lalu beliau melanjutkan, “Amma ba’du, sesungguhnya sebagian dari kelompok Anshar ini mempersedikit dan memperbanyak manusia. Siapa saja yang menjadi umat Muhammad, lalu ia dapat mendatangkan bahaya bagi seseorang, maka terimalah kebaikannya dan tolaklah kejahatannya.”

Perintah untuk Menyimak dan Diam secara Tidak Langsung

Ubadah bin Al Shamith berkata, “Rasulullah Saw pernah bersabda, ‘Ambillah dariku! Ambillah dariku! Allah telah memberikan jalan keluar bagi mereka tentang perzinaan yang dilakukan antara seorang perjaka dengan seorang gadis, maka cambuklah sebanyak seratus kali cambukan dan diasingkan selama setahun. Adapun seorang duda dengan janda, maka dicambuk sebanyak seratus kali dan dirajam’.” (HR. Abu Dawud, no. 4438).

Jika diperhatikan, kalimat Rasulullah Saw “Ambillah dariku! Ambillah dariku!” terdapat ungkapan yang bernada permintaan memperhatikan dan menarik perhatian untuk dapat mendengarkan apa yang akan beliau sampaikan. Selain itu juga terdapat keistimewaan lainnya, yaitu berupa pengulangan.

  • BERINTERAKSI SECARA AKTIF (Active Interaction)

Dalam metode berinteraksi secara aktif bisa dilakukan dengan interaksi melalui media pendengaran santri / murid pada saat mengajar. Salah satunya dengan Cara Teknik Berbicara (Presentasi dan Penjelasan).

Teknik ini digunakan dengan memperhatikan tujuan pembicaraan dalam menyampaikan dan menjelaskan sesuatu. Hal ini dilakukan dengan bersikap sedang-sedang saja, tidak terlalu cepat hingga berlebihan dan juga tidak terlalu lamban hingga membosankan. Aisyah berkata, “Rasulullah Saw tidak berbicara seperti cara kalian berbicara. Beliau berbicara dengan ucapan yang terdapat jeda di dalamnya. Sehingga orang yang duduk bersamanya akan dapat mengingat ucapan beliau.” (Shahih al Bukhari, no. 3568 dan Shahih Muslim, no. 2493)

Tidak bertele-tele dan Tidak Terlalu Bernada Puitis. Ucapan yang sedang-sedang saja dan tidak terlalu cepat bertujuan untuk menjaga agar informasi yang hendak disampaikan dapat ditangkap dengan baik oleh murid, juga agar terhindar dari kesamaran dan gangguan. Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah terlalu banyak bicara kecuali dalam bentuk dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya terlalu banyak bicara selain dzikir kepada Allah menyebabkan keras hati, dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang keras hatinya.” (HR. Tirmidzi dalam Shahih Al Jami’, no. 1965).

Memperhatikan Intonasi. Mengeraskan suara ketika mengajar adalah cara yang baik untuk menarik perhatian pendengar dan untuk menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu. Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah Saw berkhutbah dan memberikan peringatan tentang Hari Akhir, maka beliau akan terlihat sangat murka dan suaranya terdengar keras (Shahih Muslim, no. 876).

Selain itu, hendaknya seorang Guru / Asatidz  hendaknya menjelaskan pelajaran dengan tidak memotong penyampaiannya, karena memotong penjelasan akan membingungkan murid, juga akan merusak kosentrasi guru dalam mengaitkan antara satu penjelasannya dengan penjelasan lainnya yang seharusnya saling berhubungan.

Abu Hurairah berkata, “Suatu ketika Nabi sedang berbicara dengan suatu kaum dalam suatu majelis. Kemudian datang seorang Arab Badui dan bertanya kepada Nabi, ‘Kapan hari kiamat itu akan datang?’ Rasulullah Saw terus melanjutkan apa yang sedang beliau bicarakan. Setelah selesai berbicara, Rasulullah Saw berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?’ Orang Arab Badui itu menjawab, ‘Saya di sini wahai Rasulullah Saw.’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau menyia-nyiakan amanah, maka tunggulah kedatangan hari kiamat’.” (Shahih al Bukhari, no. 59 kitab al ‘ilmi ).

Diam Sebantar di Tengah-tengah Penjelasan. Diam sejenak di tengah-tengah penjelasan memiliki beberapa manfaat, antara lain menarik perhatian para murid, membawa kejiwaan seorang guru kembali rileks dan memberikan waktu kepada guru untuk mengatur pemikirannya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Bulan apa sekarang ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kemudian diam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Beliau berkata, “Bukankan sekarang ini bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab, “Benar.” Beliau kembali bertanya, “Tanah apa ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau kembali terdiam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Lalu beliau bertanya, “Hari apakah sekarang ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Beliau kembali terdiam hingga kami mengira beliau akan menjawab dengan jawaban yang salah. Beliau berkata, “Bukanlah sekarang ini Hari Idul Kurban?” Kami menjawab, “Benar.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian (lalu terdiam…)” Abu Barkah, “Aku mengira beliau akan berkata, ‘Dan kehormatan kalian.’ Akan tetapi, beliau melanjutkan, “Adalah haram bagi kalian, seperti diharamkannya (berlaku keji) pada hari ini, di tanah ini dan di bulan ini.”

Cara kedua yaitu dengan cara Berinteraksi dengan Pandangan. Berinteraksi dengan Pandangan bisa dilakukan antara lain :

Kontak Mata (Eye Contact) dalam Mengajar.

Adanya interaksi pandangan antara seorang guru dengan muridnya merupakan hal yang penting agar seorang guru dapat menguasai murid-muridnya. Hal itu juga dapat membantu murid dalam memahami apa yang disampaikan oleh gurunya berupa berbagai permasalahan dan ilmu pengetahuan.

Jabir bin Abdulullah berkata, “Seorang pria datang menemui Rasulullah Saw ketika beliau sedang menyampaikan khutbah Jumat. Beliau bertanya, ‘Apakah engkau telah melaksanakan shalat, wahai Fulan?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Beliau kembali berkata, ‘Berdiri dan rukuklah!’” (Shahih al Bukhari, no. 930).

Dalam hadits tersebut, jelas sekali Rasulullah Saw berinteraksi secara akatif dengan lawan bicaranya. Tidak mungkin Rasulullah Saw mengetahui orang secara langsung yang duduk ketika khutbah Jum’at berlangsung, kalau tidak melihatnya. Dan tidak mungkin Rasulullah Saw mendengar jawaban jamaah tersebut kalau tidak melihat wajahnya dan memperhatikan ekspresinya. Secara psikologis, pendengar akan jauh lebih merasa dihargai jika dilihat dan ditatap wajahnya.

Memanfaatkan Ekspresi Wajah

Memanfaatkan ekspresi wajah dalam mengajar akan membantu seorang guru untuk dapat mewujudkan tujuannya dalam mengajar. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah melihat ludah pada arah kiblat. Hal itu membuat beliau marah hingga kemarahannya terlihat pada wajah beliau. Beliau pun berdiri dan mengelapnya dengan tangan beliau. Lalu beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian apabila berdiri melakukan shalat, ia sedang bermunajat kepada Rabbnya atau Rabbnya berada di antara dirinya dan arah kiblat. Maka dari itu, janganlah salah seorang dari kalian membuang ludah ke arah kiblatnya. Akan tetapi menghadaplah ke arah kiri atau ke bawah telapak kakimu.” (Shahih al Bukhari, no. 6111 dalam kitab al Adab ).

Tersenyum

Jarir bin Abdulullah al Bajli berkata, “Tidaklah Rasulullah Saw melarangku (untuk masuk ke rumahnya setelah aku minta izin) sejak aku masuk Islam dan tidaklah beliau melihatku kecuali beliau selalu menampakkan senyuman di depan wajahku.” (Shahih al Bukhari, no. 3035 dan Shahih Muslim, no. 135). Senyuman itu pun memberikan pengaruh yang berarti bagi Jarir bin Abdulullah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya