oleh

Metode Belajar Mengajar Ala Rasulullah SAW (Bagian Tiga)

Lembaga Pendidikan Ar-Risalah – Proses belajar mengajar tidak hanya sekedar proses memberi pelajaran atau menerima pelajaran. Namun, terdapat proses penerimaan ilmu dari Guru / Asatidz  kepada murid / Santri.

Untuk dapat terjadi proses transfer ilmu tersebut perlu metode-metode untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Sehingga metode atau model pembelajaran dapat menjadikan proses belajar mengajar semakin efektif dan efisien.

Pada tulisan sebelumnya telah di sampaikan beberapa metode belajar mengajar ala Rasulullah SAW, bagi yang belum membaca silahkan membacanya terlebih dahulu :

Metode Belajar Mengajar Ala Rasulullah SAW (Bagian Satu)

Metode Belajar Mengajar Ala Rasulullah SAW (Bagian Dua)

Pada Kesempatan kali ini, Redaksi akan menjelaskan beberapa metode pembelajaran ala Rasulullah SAW yang telah di rangkum dalam 7 Metode Pembelajaran Ala Rasulullah SAW, diantaranya :

  • METODE BERCERITA DALAM BELAJAR (Story Telling)

Bercerita adalah metode yang baik dalam pendidikan. Cerita pada umumnya disukai oleh jiwa manusia. Ia juga memiliki pengaruh yang menakjubkan untuk dapat menarik pendengar dan membuat seseorang bisa mengingat kejadian-kejadian dalam sebuah kisah dengan cepat. Cerita tidak hanya ditunjukkan untuk hiburan semata, akan tetapi harus diambil pelajaran, nasihat, dan hikmah yang ada di dalamnya. Cerita dapat memberikan pengaruh yang besar bagi pikiran dan emosional murid. Rasulullah Saw juga sering menyampaikan cerita atau kisah-kisah yang penuh hikmah umat terdahulu sebagaimana tercantum di alam al Qur’an seperti kisah para nabi dan rasul, Zulqarnain, Qarun, para penghuni gua, dan sebagainya.

  • METODE STUDY KASUS & PERUMAPAAN (Analogy and Case Study)

Memberikan perumpamaan merupakan sarana yang baik untuk memudahkan dalam memahami kandungan makna dan pemikiran. Seorang guru hendaknya menggunakan perumpaman ketika ada pelajaran yang sulit dipahami oleh murid. Ia dapat memberikan perumpamaan sehingga pelajaran menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami. Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim (14): 24-26).

Dari Abdullah bin Umar, bahwa kami bersama Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda, “Beritahulah aku, pohon apa yang menyerupai seorang muslim di mana daunnya tidak berjatuhan dan selalu berbuah setiap waktu?” Ibnu Umar berkata, “Hatiku berpikir bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon kurma tetapi aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak menjawab, maka aku pun enggan untuk menjawabnya. Ketika semua diam dan tak ada yang menjawab, Rasulullah Saw bersabda, “Pohon tersebut adalah kurma.” (Shahih al Bukhari, no. 61 dan Shahih Muslim, no. 7029).

  • METODE TEACHING & MOTIVATING

Tasywiq adalah suatu metode yang mampu meningkatkan gairah belajar dan rasa keingintahuan yang tinggi, serta penasaran untuk mengetahui apa jawaban dan rahasianya. Tasywiq juga baik untuk memancing semangat belajar, meneliti, dan menelaah satu hal atau pelajaran tertentu. Semakin kuat menggunakan ungkapan yang bernada tasywiq, semakin kuat pula motivasi untuk belajar.

Rasulullah Saw bersabda, “Aku akan ajarkan engkau satu surah yang paling agung di dalam al Qur’an sebelum engkau keluar dari dalam masjid.” (Shahih al Bukhari, no. 5006). Selain itu, Rasulullah juga pernah bersabda, “Berkumpullah, sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur’an.” (Shahih Muslim, no. 1888).

  • METODE BAHASA TUBUH DALAM BELAJAR (Body Language)

Penggunaan bahasa tubuh dalam menyampaikan pesan atau presentasi bermanfaat untuk:

Membuat Penyampaian Bertambah Terang dan Jelas

Karena bahasa lisan dibantu dengan bahasa tubuh dan emosi, maka dengan kombinasi ini indra yang dirangsang bukan saja telinga tetapi juga mata dan indra terkait lainnya. Apalagi jika si pembicara mengajak audiens untuk menirukan gerakannya. Rasulullah Saw bersabda, “Aku dan pengasuh anak yatim adalah bagaikan ibu jari dan telunjuk di surga.” Rasulullah Saw menyampaikan pesan ini sambil mengangkat tangan dan menggerak-gerakan telunjuk dan ibu jarinya di hadapan sahabat (Shahih al Bukhari, no. 5304).

Menarik Perhatian Pendengar dan Membuat Makna yang Dimaksud Melekat pada Pikiran Pendengar

Hal ini sesuai dengan hadits dari Jabir bin Abdullah, yaitu ketika Rasulullah Saw berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Arafah. Pada khutbah tersebut beliau menjelaskan berbagai hal yang fundamental. Setelah beliau menyampaikan khutbah kepada mereka, beliau berkata, “Jika kalian ditanyakan mengenai diriku, apa yang kalian katakana?”

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menjalankan tugas, dan menasehati (kami).” Seraya memberikan isyarat dengan jari telunjuk yang beliau angkat ke atas langit dan menunjukkan ke arah orang-orang, beliau berkata, “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! (sebanyak tiga kali).” (Nukilan dari bagian khutbah haji Wada’). Sikap beliau yang mengangkat tangan ke arah langit kemudian menunjuk ke arah orang-orang adalah menarik perhatian mereka terhadap hal penting, yaitu kedudukan kesaksian atas penyampaian risalah yang menjadi tugas beliau.

Untuk Mempersingkat Waktu

Ada banyak isyarat yang biasa dilakukan, seperti isyarat untuk diam, larangan, atau permintaan untuk datang menghampirinya dan beranjak pergi. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Saw bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh kulang, yaitu: dahi (beliau lalu menunjuk ke arah (atas) hidung). Pada kedua tangan dan dua siku-siku, serta dua unjung telapak kaki.” (Shahih al Bukhari, no. 812 dan Shahih Muslim, no. 230). Isyarat itu juga bertujuan untuk mempersingkat ucapan ketika beliau tidak menyebutkan kata hidung secara langsung.

  • METODE DENGAN ALAT PERAGA (Gambar dan Grafik)

Penjelasan yang diperkuat dengan gambar atau tulisan akan membuat penyampaian tersebut menjadi jelas. Penjelasan dan tulisan mengiringi visualisasi akan membantu penyampaian ilmu pengetahuan secara lebih cepat.

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah Saw pernah membuat garis dengan tangannya.” Kemudian beliau berkata, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Beliau kemudian membuat garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut. Lalu berkata, “Jalan ini jalan setan dan setan selalu menyeru untuk mengikuti jalannya.” (Shahih al Bukhari, no. 6417).

Beliau kemudian membacakan ayat berikut: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al An’am [6]: 153).

  • METODE DENGAN MEMBERIKAN ALASAN DAN ARGUMEN (Reasoning and Argumentation)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika seekor lalat masuk ke dalam tempat air milik salah seorang dari kalian, maka tenggelamkanlah seluruh tubuh lalat tersebut, kemudian keluarkanlah ia dari tempat air tersebut. Karena sesungguhnya pada salah satu sayap lalat tersebut ada penyakit dan pada sayap yang satunya lagi terdapat penawarnya.” (Shahih al Bukhari, no. 3320).

Pada hadits ini, Rasulullah Saw menjelaskan hikmah di balik perintah menenggelamkan seluruh tubuh lalt ke dalam air ketika ia jatuh ke dalam tempat air atau minuman. Beliau menjelaskan bahwa pada salah satu sayap lalat tersebut terdapat penyakit dan pada bagian yang lain terdapat penawarnya. Jika hadits ini tidak disertai alas an perintah tersebut, maka akan membingungkan orang. Akan tetapi, karena alasannya diperjelas, kita menjadi tahu sebab dari perintah menenggelamkan lalu mengeluarkan lalat tersebut.

  • METODE BERLAJAR DENGAN REFLEKSI DIRI (Self Reflection)

Memberikan kesempatan kepada murid untuk menjawab sendiri suatu pertanyaan merupakan metode yang sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan kerja otak dan mengasah akal pikiran.

Dari Abu Dzar, bahwa ada beberapa sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak, mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bisa bersedekah dengan harta lebih yang dimilikinya?” Rasulullah Saw menjawab, “Bukanlah Allah telah menjadikan setiap yang kamu lakukan sebagai sedekah: pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap takbir ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, pada setiap tahlil (membaca kalimat la ilaha illallah) ada sedekah, pada amar ma’ruf ada sedekah, pada nahi munkar ada sedekah, dan pada setiap sendi tubuh kalian ada sedekah.”

Kemudian mereka bertanya lagi, “Wahai Rasulullah Saw apakah apabila kami menyalurkan syahwat kami ada pahala?” Rasulullah menjawab, “Apabila kalian menyalurkannya pada hal yang haram apakah berdosa?” Begitu pula apabila kalian menyalurkannya pada yang halal, bukanlah kalian mendapatkan pahala?” (Shahih Muslim, no. 2329). Pertanyaan yang disampaikan Rasulullah Saw ini memancing sahabat untuk berpikir dan melakukan self reflection.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya