by

Metode Belajar Mengajar Ala Rasulullah SAW (Bagian Dua)

Lembaga Pendidikan Ar-Risalah – Metode pembelajaran merupakan sebuah rancangan, ide atau gambaran yang diciptakan sebagai bahan untuk menyusun kurikukulum, menyiapkan ide pembelajaran serta sebagai pedoman bimbingan sebuah proses pembelajaran di kelas atau aktifitas lain seperti yang dikemukakan oleh Joyce and Weil dalam Rusman.

Pada pembahasan sebelumnya Metode Belajar Mengajar ala Rasulullah SAW (Bagian Satu) telah di jelaskan secara detail dua metode Pembelajaran yang sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW.

Berikut ini, akan di jelaskan 3 Metode Pembelajaran yang telah di lakukan oleh Rasulullah kepada para Sahabat – Sahabatnya di antaranya :

  1. Metode Pembelajaran Terapan / Praktikum ( Aplied Learning Method ).  

  2. Scanning and Levelling

  3. Diskusi dan Memberi Tanggapan (Discussion and Feed Back)

  • METODE PEMBALAJARAN TERAPAN / PRAKTIK  (Aplied Learning Method)

Analisa perilaku terapan dalam pendidikan merupakan metode yang dikondisikan untuk mengubah perilaku manusia. Metode Terapan dapat di bagi dua bagian diantaranya :

  1. Metode Praktikum yang Diterapkan oleh Guru

Suatu ketika Utsman bin Affan berwudhu. Rasulullah Saw kemudian bersabda, “Siapa saja yang berwudhu seperti cara wudhuku, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat tanpa ada sesuatu hal yang mengganggu kekhusukannya pada kedua rakaat itu, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih Muslim, no. 245).

Menggabungkan metode teoritis dengan praktikum dalam  mengajar merupakan salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mendidik dan mengajar. Metode seperti ini memudahkan seorang guru dan memberikan keluangan waktu dan tenaga baginya.

  1. Metode Praktikum yang Diterapkan oleh Murid

Seorang guru hendaknya berusaha agar murid dapat mengetahui sendiri kesalahan mereka. Hal tersebut dapat dilakukan agar murid mau mangkaji ulang sendiri dan dapat mengetahui sendiri kesalahan yang dibuatnya. Menerapkan dan mempratekkan sesuatu adalah sarana terbaik agar ilmu yang disampaikan dapat dihafal dan terjaga dari kelupaan.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw masuk ke dalam masjid. Lalu masuk seorang pria dan melakukan shalat. Kemudian ia mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah Saw lalu menjawab salam dan berkata, “Kembalilah, ulangi shalatmu! Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.” Pria itu pun lalu mengulangi shalatnya seperti sebelumnya. Lalu ia menghampiri Rasulullah Saw dan mengucapkan salam kepada beliau.

Rasulullah Saw lalu berkata, “Semoga Allah melimpahkan kerahmatan bagimu.” Beliau melanjutkan, “Kembalilah dan ulangi shalatmu! Sesunggunya engkau belum melakukan shalat.” Hal tersebut terus berulang hingga pria itu melakukan shalat sebanyak tiga kali (Shahih al Bukhari, no. 757 dan Shahih Muslim, no. 397).

  • METODE SCANING DAN LEVELLING

Terdapat perbedaan tingkat kecerdasan dan pemahaman murid-murid, antara satu dengan individu yang lain, dan antara satu kelompok dan kelompok lain. Rasulullah Saw menjawab pertanyaan ‘sederhana’ sahabat tentang apa yang harus dilakukan setelah ia memeluk Islam. Rasulullah Saw menjawab, “Katakanlah aku beriman kepada Allah dan istiqamahlah!” Jawaban yang sangat ‘sederhana’ dan praktis tentang Islam ini dipilih Rasulullah Saw karena memang lawan bicaranya ‘masih hijau’ dalam Islam. Ia belum bias diberi materi yang berat-berat seperti kewajiban jihad, tuntunan menjauhi riba, jenis jual beli yang terlarang, serta ilmu waris yang kompleks.

Membenai akal seorang murid dengan sesuatu yang tidak dapat ditanggungnya dan memberikan beban di atas kadar kemampuannya, tidak akan memberikan apa pun kepada sang murid, kecuali rasa bingung dan kebodohan.

  • METODE DISKUSI DAN MEMBERI TANGGAPAN (Discussion and Feed Back)

Menggunakan metode yang logis dalam memberikan jawaban merupakan cara yang baik. Karena cara itu dapat membuat ilmu yang disampaikan bisa masuk ke dalam hati dan pikiran pendengarnya, sebagaimana yang diharapkan. Dengan memperhatikan penggunaan kata yang sederhana dalam berdiskusi akan membuat para murid berperan aktif dalam berdiskusi sehingga terjadi interaksi yang dinamis.

Rasulullah Saw membuat contoh sederhana yang mudah dipahami oleh akal seorang murid, seperti dalam kisah seorang pria Arab Badui yang mempertanyakan perihal anaknya yang terlahir dengan warna kulit hitam. Rasulullah Saw kemudian memberikan contoh yang mudah dipahami oleh pria tersebut, yaitu berupa unta.

Abu Hurairah mengatakan bahwasannya seorang pria datang menemui Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah Saw, anakku lahir dengan kulit berwarna hitam.” Rasulullah Saw balik bertanya, “Apakah engkau memiliki unta?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Apa warnanya?” Ia menjawab, “Merah.” Beliau kembali bertanya, “Apakah ada warna abu-abu pada tubuhnya?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Warna itu ia dapati dari ras lain.” Beliau berkata, “Sepertinya anakmu ini mengambil ras lain (seperti unta itu).” (Shahih al Bukhari, no. 7314).

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya