by

Strategi dan Konsistensi Berdakwah di Era Digital

Pendidikan Dakwah Ar-Risalah – Dalam Islam dakwah dapat diartikan ialah suatu proses mengajak manusia dengan memberikan tuntunan dan arahan ajaran Islam serta memberikan anjuran untuk melaksanakan pesan-pesan dakwah yang telah sampai kepadanya. Kegiatan dakwah merupakan suatu jalan untuk membumikan nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat sehingga diharapkan dengan sampainya pesan-pesan dakwah akan menciptakan suatu masyarakat yang taat dan patuh terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Pesan-pesan dakwah pada umumnya disampaikan melalui komunikasi secara langsung oleh da’i kepada mad’u dengan metode ceramah, tabligh akbar atau kajian Islam. Metode ini adalah metode yang paling klasik namun terbukti ampuh dalam mensyi’arkan Islam yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah, para Sahabat, hingga para Ulama.

Perkembangan zaman yang diiringi dengan pesatnya kemajuan teknologi menjadi satu tantangan tersendiri bagi para da’i dan aktifis dakwah, untuk mampu memerangi hal-hal negatif  yang ditimbulkannya. Sehingga masyarakat muslim tidak akan terbawa kepada arus negatif yang akan merusak moral dan aqidah. Maka dari itu, da’i dan para aktifis dakwah harus mampu mengimbangi setiap kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat. Seperti pengunaan internet yang semakin banyak diminati oleh semua kalangan masyarakat yang dilengkapi dengan berbagai fitur yang semakin kompleks.

Lantas bagaimanakah cara yang baik untuk berdakwah di Era Digital & Milenial ?

Niat Syi’ar dengan Syu’ur

Dakwah oleh kebanyakan orang diartikan juga Syi’ar. M Quraish Syihab pernah menyampaikan bahwa yang namanya syi’ar juga bermakna syu’ur yang berarti perasaan. Maka seyogyanya seorang dai yang sedang mensyi’arkan ajaran kebaikan itu harus dengan penuh perasaan. Karena tujuannya –bagaimana orang tersebut mendapatkan hidayah. Ibarat seseorang yang memberikan hadiah, tujuannya –bagaimana sebuah hadiah bisa diterima dengan hati yang senang oleh orang yang akan kita beri hadiah. Ketika kita akan memberi hadiah, biasanya hadiah tersebut dikemas dengan semenarik mungkin atau dikemas dengan indah, ketika sudah dikemas kita akan memberikan hadiah tersebut dengan cara yang baik pula atau dengan cara yang berkesan. Begitupun dengan dakwah, menyampaikan yang baik yakni dengan cara yang baik pula. Agar apa yang disampaiakan oleh dai bisa diterima oleh mustami’.

Memahami objek berdakwah

Hal selanjutnya yang harus diperhatikan oleh seorang pendakwah itu ialah cara menyampaikan kebaikan dengan cara memahami objek dakwah. Allah SWT telah mengajarkan seorang dai agar dapat berdakwah dengan tiga cara yang tertuang dalam firman-Nya surat An-Nahl ayat: 125. Yakni berdakwah dengan hikmah, mauizhah hasanah, dan jidal.

Dalam Tafsir Al-Misbah, M Quraish Syihab mengartikan hikmah dengan berbagai makna. Salah satunya yakni Hikmah diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Jadi seorang pendakwah seyogyanya ketika menyampaikan sesuatu tidak mempunyai efek negatif bagi mustami’. Biasanya cara hikmah, diterapkan untuk seorang cendikiawan.

Selanjutnya mau’izhah, yang oleh sebagian ulama diartikan uraian yang menyentuh hati dan mengantar pada kebaikan. Hal ini diterapkan ketika objek dakwah merupakan orang awam. Dan biasanya mau’izhah bisa diterima oleh pendengar jika apa yang disampaikan oleh pendakwah disertai pengalaman dan keteladanan dari seorang pendakwah tersebut.

Kemudian Jidal, yang berarti beradu argument ataupun berdebat. Sebagian banyak ulama tafsir menyampaikan bahwa cara Jidal menurut Al-Qur’an itu harus dengan cara jidal yang terbaik (Billatii Hiya Ahsan). Bukan hanya jidal yang baik. Karena pada dasarnya ada jidal yang baik, jidal yang terbaik, dan ada pula jidal yang buruk, yang ketika diterapkan menimbulkan permasalahan.

Namun menurut Thabathaba’i, ketiga cara diatas dengan tiga objeknya bukanlah rumus yang paten. Bisa saja seorang cendikiawan tersentuh dengan cara mau’izhah dan tidak menutup kemungkinan seorang yang awam menerima dan tersentuh dengan apa yang kita sampaikan dengan cara jidal.

Maka jika dilihat dari cara atau metode dakwah diatas, seorang dai harus pintar memilih cara dan melihat objek dakwah dengan tidak melupakan sifat cara dakwah tersebut, yakni dengan cara yang terbaik.

Rendah hati dan tidak mudah membenci

Sifat rendah hati sangatlah perlu dimiliki oleh seorang pendakwah. Karena jika hal tersebut tidak dimiliki dai, maka selamanya akan menganggap kecil orang lain dan merasa dirinya besar. Sedangkan ketika seseorang merasa besar, hakikatnya dia itu kecil. Sehingga ketika objek dakwah bertentangan dengan dai maka yang timbul adalah rasa benci.

Padahal sifat rasa benci sangat harus dijauhkan dari seorang diri pendakwah. Penggalan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8 yang berbunyi, “Wa Laa Yajrimannakum Syana`aanu Qoumin ‘Alaa Ta’diluu…”. Dalam Tafsir Al-Misbah diartikan: Dan janganlah terdorong oleh kebencian kepada suatu kaum (orang-orang kafir) untuk berlaku tidak adil (hingga kamu menganiaya mereka karena permusuhan mereka itu).

Dan uraian diatas bias kita pahami, Allah SWT terhadap orang kafir sekalipun melarang membenci atau melarang diri kita terdorong oleh kebencian yang menjadikan kita tidak berlaku adil. Apalagi kepada seorang muslim dan mukmin.

Moderat dan tidak berlebihan

Ketika berdakwah moderat juga sangat diperlukan. Karena tidak sedikit ataupun tidak jarang ketika seorang pendakwah menyamipaikan isi dakwahnya dihadapan orang yang tidak sepemikiran dengan pendakwah. Tetapi seharusnya seorang dai yang sedang syi’ar kebaikan dapat menjadi seorang penengah dan ada ditengah-tengah. Karena sesungguhnya Allah SWT menciptakan manusia sebagai “Ummatan Wasathon”. Ummat pertengahan. Dan jika seorang pendakwah tidak bisa moderat maka yang timbul rasa berlebihan dalam bersyi’ar. Sedangkan Allah melarang umat-Nya berlebihan “Wa laa Tusrifuu”. Karena apa?

Karena ketika seorang pendakwah bersyi’ar secara berlebihan khusus nya dalam mengajak kepada hal yang baik melalui ucapan (ceramah), hasilnya akan menimbulkan ekstrimisme. Sedang dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW  jauh dari sifat ekstrim.

Maka bisa ditarik kesimpulan dari uraian diatas, bahwa menjadi seorang pendakwah yang baik tidak terlepas dari niat syi’ar, memahami objek berdakwah, rendah hati dan tidak mudah membenci, serta moderat dan tidak berlebihan. Dan selayaknya seorang pendakwah konsisten dalam dakwahnya dengan empat cara tersebut tanpa ditumpangi kepentingan lain di luar tujuan mengajak kepada hal yang baik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya