oleh

Empat Hal Yang Dapat Merusak Pahala Ibadah Puasa

Puasa Ramadhan dilakukan dengan cara menahan diri dari makan, minum, atau perkara yang membatalkan misalnya hubungan suami-istri pada siang hari. Meskipun demikian, umat Islam yang menjalankan puasa tidak “hanya” melakukan itu saja. Seorang muslim mesti waspada terhadap hal-hal yang merusak pahala puasa.

Puasa memang bermakna menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenam matahari (waktu magrib). Namun, perlu diperhatikan sabda Nabi Muhammad, “Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani)

Oleh karenanya, seorang muslim yang berpuasa mesti berhati-hati agar upayanya menahan diri sejak subuh hingga magrib tidak sia-sia. Secara umum, ia mesti mengendalikan hawa nafsu, lebih baik diam demi menghindari perkataan dan perbuatan yang percuma.

Berdasarkan Kajian Kitab Kuning Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifati al-Madh al-Minhaj Karangan Syekh al-Khatib al-Syarbini yang disampaikan oleh KH. M. Chozin Machmud, MM di Channel Youtube AR-RISALAH TV, setidaknya ada empat perbuatan yang dapat merusak pahala ibadah puasa diantaranya :

Pertama, berdusta atau berbohong, menyampaikan informasi yang tidak berdasarkan fakta sesungguhnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah menekankan, “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (tetapi justru) mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan (saat puasa)” (H.R. Bukhari 1903).

Kedua, gibah atau menggunjing, atau perbuatan yang membicarakan keburukan orang lain. Nabi Muhammad menegaskan, gibah ini adalah “kau ceritakan hal tentang saudaramu, yang jika ia mendengar, maka ia tidak rela”.

Ketiga, mengadu domba atau menciptakan perselisihan atau pertikaian dua pihak yang awalnya sepaham atau rukun. Mengadu domba ini adalah kelanjutan gibah dan fitnah di atas. Tindakan ini dalam tataran iseng atau sekadar kebiasaan saja sudah mengurangi pahala, apalagi jika tujuannya mencari keuntungan atau memanfaatkan situasi.

Keempat, memandang dengan syahwat. Puasa digunakan untuk mengontol hawa nafsu. Oleh karenanya, akan disayangkan jika seseorang dalam situasi berpuasa, terus-menerus memandang sesuatu yang bisa membangkitkan hasrat.

Berikut ini video “Kajian Kitab Kuning Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifati al-Madh al-Minhaj” oleh KH. M. Chozin Machmud, MM.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *