oleh

MULIA DENGAN UJIAN

 

Edisi 1 (Pertama)

Jum’at, 23 Rajab 1443 H

Drs. KH. M. Chozin Machmud M.M

MULIA DENGAN UJIAN

 

A pakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:


أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

kami telah beriman” , sedang merekan tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang yang dusta (QS AL-Aankabut  Juz {29}. Ayat 2-3).

Orang-orang yang beriman memang tidak bisa melepaskan diri dari ujian keimanan. Hal ini merupakan proses yang akan membuktikan keimanan seseorang. Ujian keimanan adalah keniscayaan. Ibnu katsir menjelaskan, ujian yang diberikan itu sesuai dengan kadar keimanan seseorang. Rasulallah SAW bersabda, “mausia yang paling berat cobaanya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian berikutnya dan berikutnya. Seseorang dicoba sesuai dengan (kadar) agamanya. Ketika ia tetap tegar, maka ditingkatkan cobaanya.” (HR At-Tirmidzi).

Ujian Bentuk Perintah

Ujian ini seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS, untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal. Bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Namun dengan segala ketabahan dan kesabaran keduanya, perintah yang sangat berat itupun dijalankannya tanpa keraguan sedikitpun. Disini terlibat bagaimana kualitas keimanan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail as yang benar-benar tahan uji. Betapa Nabi Ibrahim memiliki maqam yang tinggi karena ujian keimanan yang dihadapi begitu berat.“sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata” (QS. Ash Shaffat: 106)

Ujian Bentuk Larangan

Ujian ini seperti yang terjadi pada Nabi Yusuf AS, yang diuji dengan seorang perempuan cantik. Istri seorang pembesar mesir mengajaknya berzina. Kesempatan itu sangat terbuka. Ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah, perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun, Nabi Yusuf as berhasil menjaga kehormatannnya karena keimanannya kepada Allah SWT.

Ingatkah kita dengan kisah Syekh Ahmad Yasin yang memimpin Al-Qasam diatas kursi roda? Atau panglima sudirman yang memimpin perang gerilya dengan ditandu? Dengan keterbatasan yang ada, mereka tetap berjuang. Kelemahan fisik mereka dikalahkan dengan kekuatan iman yang begitu menggelora. Mereka tetap berjuan dengan keterbatasan yang mereka miliki, walau dengan kepayahan maupun kekurangan. Begitulah ujian Allah kepada mereka, untuk membuktikan ketangguhan imannya. Tidak sedikitpun ia merasa menderita. Tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya

Ujian Untuk Melihat Sifat Mulia

Allah menguji kita untuk melihat manakah dari sifat-sifat mulia seperti (ikhlas,jujur,sabar,lapang dada, semangat berbuat baik) yang Nampak pada diri kita sehingga bisa memutuskan atau mengangkat derajat kita. Ataukah sebaliknya kita terpuruk dengan ujian tersebut, mencela, protes terhadap keputusan allah, bertawakhal kepada dunia dan manusia, emosi dan balas dendam, serta malas melakukan kebaikan yang semua ini hanyalah menjadikan kita hina dan merendahkan derajat kita.

Ibnul Qoyyim R ahimahullah berkata, “kalau bukan karena ujian dan cobaan maka tidak akan terlihat keutamaan sabar, ridho, tawakhal, jihad, kemuliaan, menjaga kehormatan diri, keberanian , keutamaan memaafkan dan berlapang dada.” Jika seorang mukmin telah tulus dalam menghadapi ujian maka dia menjadi orang yang mulia, semoga kita termasuk orang yang mulia dengan ujian dari Allah SWT. Aminn..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *